Laman

Selasa, 26 Oktober 2010

Sepucuk mawar dipagi ini



gemuruh-gemuruhku
gemuruh cintaku
gemuruh kasihku
gemuruh sayangku
gemuruh cemburuku


gemuruh pikiran mencari fakta nyata yang sudah jelas ada
gemuruh akal menimbang syari'at tuk berjihad menghadapi yang jahat
gemuruh jiwa cemburu dirayu merayu yang telah menyatu syahdu pada nafsu
gemuruh hati ternoda cinta sejati berjanji sampai mati namun dihianati
gemuruh tak peduli pemberi rizki tuk hidup dibumi

cintaku padamu tak terbatas
kasihku padamu tak terhingga
sayangku padamu tak berujung
cinta kasih sayangku menembus masa

cintaku padamu kilau cahaya cintanya padamu
kutenggelamkan cinta kasihku padamu di samudera kehendak takdirnya
tak ada kata cinta kecuali padamu sebagai wujudnya

syukurku padamu bagai kumbang yg menemukan madu dikelopak bunga
syukurku padamu bagai bumi menerima curah hujan
syukurku kepadamu bagai malam tersinari cahaya rembulan

kini aku sudah sampai pada batas kepasrahanku sebagai hamba
mari kita rangkai bunga-bunga cinta abadi dengan benang syari'at dan tauhid
agar perjalanan cinta kita selamat tuk berjumpa dengannya

cm. hizboel wathony
27-10-2010


Gemuruh dada sesak
membaca ungakapanmu pada sebuah puisi
tersanjung merona..
walau persembahan ini ntah untuk siapa
harapanku ada padaku

Linangan air mata menitik
bahagia...
sepucuk mawar pada puisi telah terkirim dipagi ini

Duhai kasih
terkadang kesucian cinta ini ternoda oleh nafsu dan dzon
membawaku pada cemburu

Duhai kasih
ingin rasanya cinta ini utuh hanya padaku
tapi kehendak Tuhan lain 
terbagi pada mawar lainnya
Cintapun pasrah pada kepatuhanku pada -NYA

Dengan pengabdiaku atas cinta
tetap... akan selalu utuh padamu
Dan ada karena -NYA

~Mawarmu yang akan terus mewangi dihatimu...~

Latifah Hizboel
27-10-2010

11 komentar:

  1. sepucuk mawar bermata dua, mawar cinta suami dan mawar kasih istri. Hmh ... semburatnya menyinari pagi di hati perawan. Nice post, Teh ...
    Barakallah

    BalasHapus
  2. Teh, saat awal baca puisi pertama, kupikir gayamu mulai berubah. Bait kedua dan seterusnya, nampak makin beda. Eeehhh ternyata itu tulisannya Pak Hizboel ya?
    Sungguh serasi ...

    BalasHapus
  3. Ceu Anie @ Yang bikin beda ada 'kata kumbang' nya ya Ceu ? hehehe

    Haturnuhun piduana wae nya ...Insyaallah.

    BalasHapus
  4. Duh.. ini khusus untuk Bu Ateh ya? Ehmm..

    BalasHapus
  5. bukan kumbang-nya, Teh ... tapi terletak pada 'rasa'. Duh, gimana ya neranginnya. Susah dikatakan tapi bisa dirasakan.

    BalasHapus
  6. Mba Ajeng @ Hmmm...begitulah mba...hehe

    Ceu Anie @ Iya ceu saya paham, begitulah suamiku kalo nulis puisi...

    Disini ada kumpulan2 puisinya http://kalammunajat.blogspot.com

    BalasHapus
  7. tukeran link yuk...saya sudah pasang link blog ini di blog saya..periksa aja dulu...kalau ok, mohon add link saya, namanya "Bolehngeblog"..trims

    BalasHapus
  8. Subhanallah... Sepucuk mawar yg menginspirasi dan mencerahkan. Aq selalu takjub menyimak puisi2 di blog ini.
    Dzadjakillah khairan katsira :)

    BalasHapus
  9. Penggunaan diksi yang semakin bagus dan berkualitas. Juga makna yang sangat dalam dikemas menjadi puisi indah. Renungan sekaligus 'rasa' yang manusiawi.

    BalasHapus
  10. gemuruh cinta...gemuruh hati..kerana cintaNya dikau begini..gemuruh cinta...gemuruh hati..kerana cintaNya kau abadikan diri..salam pkenalan...

    BalasHapus

Dengan senang hati kami menerima komentarmu sahabat ,Terimakasih !