Laman

Senin, 04 Januari 2010

Pemaaf menjadikan jasmaniah dan rohaniah sehat


R asa sakit hati pastinya menikam bila seseorang menyakiti hati kita dengan perkataan,sikap,perbuatan dan tindakannya.Terasa penuh dada ini dengan kebencian,kegeraman ,kekesalan dan mungkin juga tersimpan dendam.Keinginan untuk membalas karena terlanjurnya sakit yang teramat,terkadang menggoda iman kita dengan segala nafsu yang menganggu hati.Begitu berat bibir ini untuk menyungging senyum terhadapnya.Karena kebencian telah hadir didalam hati.Untuk bertatap mukapun ingin selalu dipalingkan dari tatapannya.Karena hati sudah tergores dan luka.

Tapi apakah tentram dan damai hati ini, bila kebencian dan dendam terus kita simpan dalam hati ?pastinya Sungguh melelahkan jiwa dalam menghadapinya. Dendam dan benci yang berlarut hanya akan membuat hati mengeras dengan noda-noda nafsu yang mengotori jiwa.Terkadang hati ini mengharap permohonan maafnya dari seseorang yang telah menyakiti kita ,sedangkan dirinya tak merasa bahwa dia telah melakukan kesalahan dan telah menyakiti kita.Akhirnya kita hanya berperang sendiri dengan nafsu dari kebencian terhadapnya.Hanya dengan memaafkannya sebelum dia meminta maaf terhadap kita, hatipun akan tentram dan damai dan terlepas rasa gemuruh kebencian yang menyesakkan dada.Bijaklah terhadap sendiri dengan memaafkannya.Niscaya kelapangan dada akan terasa indah. Dengan kebeningan hati Maafkanlah sebelum dia meminta maaf.Menjadi pemaaf itu menyehatkan jasmaniah dan rohaniah.


Kisah sahabat Rosulullah SAW ,Abu Bakar Shiddiq. Untuk menghancurkan kekuatan umat Nabi Muhammad SAW, tokoh munafik Abdullah bin Ubay menyebarkan fitnah, tentang Siti Aisyah yang telah berbuat negatif. Cepat sekali issu itu menyebar. Sampai-sampai Abu Bakar sebagai ayah dari Siti Aisyah menjadi gelisah, lantaran sahabat karibnya Masithah juga ikut menyebarkan berita yang tidak baik tersebut. Padahal selama ini Masithah telah banyak dibantu kebutuhan hidupnya oleh sahabat utama Nabi itu. Semula Abu Bakar ingin memutus tali silaturrahim dengan sahabat karibnya Masithah. Ternyata niat Abu Bakar ini tidak diperkenankan Tuhan.

Lalu turunlah ayat : Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tak ingin Allah mengampunimu ? Dan Allah Maha Pengampun lagi Penyayang (QS 24 :23).

Dan menjadi lembutlah hati Abu Bakar. Sikap khalifah pertama ini bercermin kepada perilaku Uswatun hasanah Rasulullah SAW. Nabi tak pernah dendam, dengki, ataupun benci, sekalipun hati beliau sering disakiti karena berkali-kali tertimpa hasutan dan fitnah orang kafir dan musyrik Quraisy. Malah beliau tetap bersikap baik dan memaafkan, termasuk kepada Abdullah bin Ubay tadi. Dengan teguran ayat Al Quran 24-23 itu, Abu Bakar segera memaafkan kerabatnya Masithah. Ia kembali berhubungan dengan memberikan bantuan kepadanya seperti sedia kala, sambil berkata,' Aku senang Allah memberikan ampunan kepadamu.' Menebar rasa cinta kasih dan pemaaf haruslah menyeluruh, tidak pandang bulu, bahkan kepada para penjahat sekalipun. Kepada mereka, kita tidak boleh mengutuk dan mengumbar dendam.

Denga bijak Rasulullah SAW bahkan, menyuruh kita agar prihatin dan mendoakan mereka :' Allahumma irhamhu, Allahumma tub alaihi' (Ya Allah, kasihanilah dia. Ya Allah, ampunilah dia). Dengan Kasih sayang dan pemaaf , semoga seseorang kembali kepangkuan ilahi. Wallahualam Bishowabb....

20 komentar:

  1. Memaafkan..bgitu mulianya kata itu. Ia merupakan cermin jiwa bersih yg terlepas dari segala nafsu serakah dan kesombongan. Saking terpujinya ia, hingga ia pun tak mudah untk kita dapatka. diperlukan suatu pengorban diri utk dapat merealisasikannya...semoga hati2 kita senantiasa terbuka utk siapapun,w alau sebesar apapun kesalahan orang lain pada qt..

    BalasHapus
  2. post yg baik
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  3. Memaafkan seseorang yang telah menjahati kita sungguh suatu perbutan yang paling mulya. Sungguh orang2 yang hatinya Seluas Samudra yang bisa melakukkan itu.,,

    BalasHapus
  4. Rasulullah, SAW adalah manusia yang paling pemaaf. Semoga kita semua bisa meneladani beliau. Pencerahan yang mantap. Subhanallah.

    BalasHapus
  5. assalamualikum, pa kabar teh?

    wah, aku pun sdng mengalami hal yg sama nih...
    merasa sakit hati dgn omongonan salah seorang teman..

    terkadang yg keluar dr mulut, blm tetntu dpt diterima oleh org lain yg mendengarnya..
    sabar dan lapang dada, mngkn ya...
    krn Allah bersama org2 yg sabar...
    (ngeyem2i..hatiku dewe...)

    hehehe....
    oya, makasih pencerahannya...
    tulisan ini tlh memberi pencerahan buatku.. :)
    thnks ya, teh...

    BalasHapus
  6. Trim's pencerahannya dipagi hari yang penuh rahmat ini!

    Kesabaranlah yang membuat kita bisa memaafkan seseorang.

    Kesabaran membuat hati kita tenang dan tidak bergejolak dalam menghadapi sesuatu yang menyakiti, dan mudah mengendalikannya karena hati yang sabar membuat pikiran kita stabil!

    Dalam riwayat Abu Hurairah dikatakan "Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah!

    Orang yang sabar mudah untuk memaafkan bahkan akan mendoakan kebaikan bagi yang menyakitinya!

    Marilah kita sama-sama belajar menjadi orang yang sabar dan pemaaf!

    Allah maha pengampun! Tentunya sebagai hambanya juga demikian.

    BalasHapus
  7. Inspiring, teh. Iya ya,jika kita memaafkan, maka tak ada dendam. Hidup tanpa dendam bisa menyehatkan. Karena pikiran tenang.

    BalasHapus
  8. akhirnya mbak Tisti hadir ya. jadi ingat sirah nabawiyah betapa pemaafnya Baginda Rasul

    BalasHapus
  9. Kadang begitu sulit membedakan antara memaafkan dan menunda dendam. Semoga kita semua selalu dalam bimbingan-Nya.

    BalasHapus
  10. buat apa membebani diri dengan dendam membara, justru membuat dada sesak...
    lebih baik pulangkan saja semua kepada yang mengurus langit dan bumi ini...
    salam kenal...

    BalasHapus
  11. menyimpan dendam itu sama aja kayak nyimpen bom waktu didalam diri kita sendiri... pas waktu meledak nggak hanya akan ngancurin diri kita, tapi juga ngancurin semuanya disekitar kita....

    selamat tahun baru ya mba...

    BalasHapus
  12. terima kasih...renungannya indah sekali.

    BalasHapus
  13. hari ini aku mendapatkan satu ilmu lagi, kemaren aku punya salah ama temen bloggerku, bikin hati ngga tenang, meskipun udah minta maaf, tetep aja ngga enak :), tapi syukurlah sekarang udah lega.. makasih mba :)

    BalasHapus
  14. Alangkah bahagianya bisa menjadi seorang yang penyabar dan pemaaf...

    BalasHapus
  15. Apa yang bisa kita perbuat pada masa lalu?
    Bahkan pada sedetik yang telah lewat pun, tidak ada yang dapat kita lakukan…
    Apa yang terjadi di waktu yang terdahulu, tidak dapat kita ulang lagi….

    Dan di antara semua yang terjadi di masa lalu, ada khilaf, ada salah, ada kekeliruan, ada banyak kesalahan-kesalahan entah yang kita ucapkan ataupun yang tidak kita ucapkan….…

    Hanya ada dua hal yang bisa kita lakukan : melupakannya atau mengambilnya sebagai pelajaran………..
    Karena dengan begitu kita bisa terbang bebas memasuki gerbang waktu berikutnya yang sangat indah ….
    Yaitu gerbang waktu yang penuh hikmah dan ampunan ….
    Dan, nikmat terbesar yang pernah kita rasakan, adalah ketika seseorang yang kita sakiti, mau menerima permintaan maaf dari kita…………

    Oh………… betapa indahnya apabila kita saling memaafkan………..

    BalasHapus
  16. great post..bengong lagi disini.. yap setuju saling memafkan tidak harus nunggu hari lebaran; akang insan... ane dah coba 2 hr ttp ga bisa submit coment.. maafin ane ya.. hiks

    BalasHapus
  17. memaafkan, meski berat namun pahalanya besar disisiNYA

    BalasHapus
  18. dengan memaafkan kayanya hati jadi tentram


    tapi kalau sudah dendam hati rasanya gersang

    BalasHapus
  19. Memaafkan sulit dilakukan jika kita tak dapat melupakan hal yang membuat kita sakit hati / marah...
    Ajari aku untuk menjadi lebih pemaaf ya mbak..
    Makasih udah mengingatkan..

    BalasHapus

Dengan senang hati kami menerima komentarmu sahabat ,Terimakasih !