Laman

Selasa, 24 November 2009

Kisah Perjuangan Seorang Penambal Ban Menuju Baitullah


Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh," (Al Hajj : 27)

** Unta yang kurus menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jemaah haji.

Lebih dari seperempat abad, Pak Hardi (54) menjalani profesi sebagai tukang tambal ban sepeda. Tak tampak keistimewaan dari bapak lima putra ini. Setiap hari ia mengenakan pakaian ‘kebesaran’ yang lusuh dan berlumur gemuk (oli). Peci hitam dan kacamata plus menjadi atribut khasnya. Jika sedang beruntung, biasanya Pak Hardi membawa pulang uang sekitar Rp 20 ribu – Rp 25 ribu dalam sehari. Sementara saat sepi, ia bisa pulang dengan tangan kosong, meskipun seharian membuka bengkel kecilnya, yang terletak di tepi jalan Wonosari (dekat stasiun Jogja TV), Jogjakarta. Namun siapa sangka, di balik ketidakistimewaannya, pria bersahaja ini adalah seorang haji. Hebatnya, perjuangan yang ia lalui untuk sampai ke Baitullah berbeda dengan kebanyakan jamaah haji pada umumnya. Pak Hardi menyisihkan selembar demi selembar uang hasil jerih payahnya untukk ditabung, kemudian dibelikan sapi. Sisanya untuk biaya hidup keluarganya. Bagi orang seukuran dia, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan, mengingat keterbatasan ekonominya. Beruntung karena Pak Hardi mampu melewati godaan-godaan itu selama kurang lebih 15 tahun. Akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci pada tahun 1998. Sebuah nikmat yang luar biasa, ketika wong cilik seperti dia bisa menunaikan ibadah haji.

Keinginan berhaji berawal ketika Pak Hardi sering mendengarkan ceramah dari para kyai saat di pengajian. Ia memang sangat rajin mengikuti acara pengajian, khususnya di pagi hari. Tak hanya di satu tempat, tetapi Pak Hardi sering menyempatkan diri datang ke masjid-masjid untuk mendengarkan nasihat agama. Gemblengan-gemblengan nasihat itulah yang menumbuhkan niat dan tekad yang kuat dalam dirinya untuk bisa pergi haji. Meskipun tidak diucapkan secara lisan, namun usahanya untuk mewujudkan niat tersebut tak main-main. Selain rutin mengumpulkan uang hasil kerjanya, Pak Hardi juga rajin memohon pada Allah melalui salat tahajjud dan membaca doa mohon kekayaan. Bahkan setiap ia hendak menabung uangnya, ada doa khusus yang selalu dibaca. Tujuannya agar bisa menjaga ketetapan hatinya Namun demikian, bukan berarti dirinya terlepas dari godaan syetan. Ia mengakui ada saja hal-hal yang kadang membuat niatnya goyah. Misalkan, saat putrinya minta dibelikan sepeda motor atau keinginan untuk membeli barang-barang baru. Hanya saja, ia tetap tak goyah dari niatnya semula. Prinsipnya, sebelum bisa naik haji, ia tidak akan membeli barang apapun dengan uang simpanannya.itu, kecuali sapi. Maksudnya sebagai simpanan sebelum berangkat haji.

Dari hasil tabungannya itu, pak Hardi bisa membeli 9 ekor sapi. Kesemuanya dititipkan pada tertangga untuk dipelihara. Dengan begitu, secara tidak langsung Pak Hardi pun telah menolong orang lain. Saat musim haji hampir tiba, Pak Hardi menjual semua sapinya untuk setoran Ongkos Naik haji (ONH). Pada waktu itu ONH per orang sekitar Rp 8,8 juta, padahal uang hasil penjualan sapinya hanya Rp 6, 5 juta.. Kemudian ia mengambil seluruh tabungannya yang ada di bank. Itu pun masih kurang sekitar Rp 600 ribu. Di tengah kebingungannya, ada salah seorang tetangganya yang berbaik hati meminjamkan uang kepadanya.

~Sakit di Madinah
Pak Hardi merupakan salah satu calon jamaah haji yang berangkat pada gelombang pertama. Ia beserta rombongan menuju Madinah dulu sebelum mengerjakan ritual haji atau Pak Hardi biasa menyebutnya "ziarah haji". Selama di Madinah, setiap jamaah disunnahkan untuk mengerjakan salat arbain atau salat 40 waktu di Masjid Nabawi. Sayangnya, Pak Hardi tidak bisa memenuhi 40 waktu tersebut karena sakit. Namun Alhamdulillah pada saat hendak ke Mekah, kesehatannya pulih, sehingga ia mampu menyelesaikan ibadah hajinya dengan sempurna.

~Ingin Nabung Buat Istri
Sepulangnya dari Tanah Suci, Pak Hardi tidak lantas merasa cukup.. Ia bahkan berencana untuk memberangkatkan istrinya dengan cara yang sama. Kini, sudah hampir 10 tahun ia menyisihkan hartanya dalam bentuk 2 ekor sapi. Selain itu, ia merasakan nikmat yang besar dari ibadah yang telah dikerjakannya. Pak Hardi mengaku lebih tenteram semenjak pulang dari Mekah. Kesehatannya juga semakin baik, meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad. Dari segi ekonomi, mungkin memang tidak begitu terlihat perubahannya, masih tetap sederhana. Namun, bagi keluarga Pak Hardi itu bukanlah sesuatu yang penting. Mereka justru terbiasa dengan kesederhanaan.. Yang terpenting baginya adalah ibadah untuk bekal di akhirat. Tak heran jika niatnya bekerja pun semata-mata untuk ibadah. Jika ada imbalan materi, itu adalah pemberian rizki dari Allah melalui orang lain. Itulah perjalanan panjang Pak Hardi menuju ke Baitullah. Memang tidak mudah, namun ketekunan dan kesabarannya mampu mengantar Pak Hardi sebagai tamu Allah di antara jutaan umat manusia. MasyaAllah....

Sumber : Trie yati

23 komentar:

  1. kisah yang sangat indah dan menginspirasi mbak... ternyata memang benar kata pepatah "jika ada kemauan di situ pasi ada jalan"...

    BalasHapus
  2. do'oh kapan yah dirikuh bisa jadi petromaxx disini???

    BalasHapus
  3. jadii inget filemnya "emak ingin naik haji". meski hanya sebuah filem namun ceritanya "nyata" telah mengispirasi banyak orang untuk beribadah haji.

    BalasHapus
  4. Buah kesabaran, keuletan dan keikhlasan yang manis. Sebuah mutiara kisah yang patut dicontoh dari pak Hardi. Mutiara kisah yg inspiratif dan manis, seperti biasa.

    Akhirnya tiba juga di sini setelah susah payah melawan inet yg lelet he he he..

    BalasHapus
  5. kalo udah jadi keinginan, diperjuangkan terus ya biar bisa terwujud.

    BalasHapus
  6. keinginan yang kuat mengalahkan segalanya, bahkan anak sendiri :) saya kapan :(

    BalasHapus
  7. jika kita berusaha, maka Allah akan membukakan jalannya mbak. :D

    BalasHapus
  8. semoga kita semua dapat meniru semangat dan tekad kuat beliau dalam meraih keinginan :)

    BalasHapus
  9. hmmmh ... kisah disini selalu penuh inspirasi, menyejukkan dan memotivasi.

    BalasHapus
  10. Perjalanan hidup yang mengagumkan,semoga isterinya mendapat kesempatan yang sama! Amin!

    BalasHapus
  11. Subhanallah,...

    perjuangan yg tidak mudah tapi karena ketekunan,kerja keras dan keimanan yg kukuh kepada Allah membuat pak hardi menjadi tamu Allah yg istimewa ya teh....

    BalasHapus
  12. salam sobat
    selamat Idhul Adha mba ATEH.
    YA benar,,unta kurus menggambarkan jauhnya dan sukarnya yang ditempuh jamaah haji.
    semoga dimudahkan ibadah jamaah haji.

    BalasHapus
  13. sebuah kisah yang tak hanya inspiratif..namun menggugah kesadaran kita, yang barangkali secara ekonomi...lebih mampu dibanding tukang tambal ban tsb...namun belum haji...

    sikap bersyukur dan mampu memanage rejeki...barangkali jadi sebagian keyword dari kisah tersebut...

    BalasHapus
  14. kisah yang inspiratif mbak...kapan ya aku bisa seperti pak Hardi? Jangan menunggu kaya untuk bisa naik haji, karena pada hakikatnya manusia tidak akan pernah merasa kaya dalam hidupnya. Ketika niat suci itu benar2 kita tancapkan pasti Allah akan menolong dengan cara bagaimanapun...makasih ya mbak..

    BalasHapus
  15. Alangkah nikmatnya dapat menunaikan ibadah haji dengan hasil dari tetes keringat sendiri...

    BalasHapus
  16. Subhanalloh,,,
    harusnya orang yang cukup dana malu ya Ummi dengan kgigihan Pak Hardi...
    Jadi sedih, hik hik,,,
    Inspiratif sekali Ummi...

    BalasHapus
  17. subhanalloh....Man jadda wajad...

    BalasHapus
  18. Ya Allah.., kuatnya tekad itu membuatnya mendapatkan kemudahan. Aku kagum banget dg keuletan pak Hardi dalam mewujudkan mimpinya.

    BalasHapus
  19. kisah yang bagus mbak jadi inget film emak ingin naik haji tapi kisah mbakini jauh lebih seru karena reality nice post

    BalasHapus
  20. Subhanallah...
    Asal ada niat dan usaha pasti Allah akan memberikan jalan dan kemudahan.
    Jazaakillah Khayr bwt ceritanya...

    BalasHapus
  21. gimana ibadahnya bu mampir waduh ternyata bener deh masuk top komentator

    BalasHapus

Dengan senang hati kami menerima komentarmu sahabat ,Terimakasih !