Laman

Sabtu, 24 Oktober 2009

Kisah Detik-Detik Izrail Mencabut Nyawa Kekasih Allah SWT

T iba-tiba dari luar pas pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Dari Insan Kamil Group Cinta Rasulullah SAW

26 komentar:

  1. Sudah lama tak sempat baca kisah-kisah seperti ini. Menyentuh ruang lain yang sering terlupakan. Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi.

    BalasHapus
  2. semoga syafa'atnya terlimpahkan kepada kita. Amin.

    BalasHapus
  3. rindu pencerahan seperti ini mbak , sesungguhnya semua yang bernyawa akan mati dan sakratul maut adalah perkara yang besar sekali

    BalasHapus
  4. Allahu Akbar Rasulullah mulia nian dikau, nabi kekasih ALLah saja merasakan betapa dahsyatnya sakratul maut itupun dicabut dengan pelan bagaimana dengan kita manusia yang punya banyak dosa ayh Allah ampunkanlah dosa-dosa kami yang sering berbuat salim dan kemungkaran

    BalasHapus
  5. Kukunjungi sebuah ruang cahaya melalui kisah ini.

    Met weekend, mbak.

    BalasHapus
  6. Sakit benar maut itu. Semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik bagi Rasulullah di pelukan-Nya.

    BalasHapus
  7. uhmm jadi speachless :)
    jadi inget papah sayah kangen sangad...

    lagu blog na sayah suka mbaak heheh

    salam kenal yah mbak ^^

    BalasHapus
  8. sama kayak mbak ranny ... lagunya siip .......
    coz tuh lagu soundtracknya drama korea yang paling didemenin Ibnu .......

    BalasHapus
  9. Saya pernah dengar cerita ini dari Ayah saya.
    kata ayah saya, Izrail-pun sampai sungkan untuk mencabut SAW

    BalasHapus
  10. salam sobat,,
    trims pencerahannya mba,,,
    betapa cintanya Rasulullah kepada kita..
    makanya kita sebagai umatnya selalu bersalawat
    untuk menyebut nama Rasulullah.
    seperti yang mba ATEH tulis.

    BalasHapus
  11. Mampir malam. Maaf nih mbak, karena monitor komp. yg di studio lagi bermasalah, jadinya gak bisa langsung bacain link yg direkomendasikann sewaktu program SEMBILU di RCA tadi. Saya jg baru tahu kalo ada pesan dari mbak di shoutmix ketika diberitahu oleh teman yg lagi tugas admin di situs RCA.

    BalasHapus
  12. pencerahan yg membawa kita tuk slalu brmuhasabah

    salam

    BalasHapus
  13. subhanallah detik-detik yg indah yg mengharukan
    semoga kita menjadi umat Muhammad yg senantiasa dcintai oleh Allah, amin:)
    sholat..sholat..udah azan subuh
    permisi mbak, assalamu'alaikum;)

    BalasHapus
  14. Saya pernah membaca petuah terakhir Baginda Rasul :“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya.
    Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada
    kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,“

    Baginda yang sudah dijamin masuk surga saja dalam menghadapi sakratul maut,mengaduh karena sakit yang tidak tertahankan, Lalu bagaimana dengan kita?

    BalasHapus
  15. Saya mendengar kisah ini dari murrobi saya waktu kecil, dan membacanya ketika SMA. Sekarang Bunda mengingatkan kembali akan cerita ini. Terima kasih Bunda untuk sharingnya, semoga ini membuat kita selalu bermusahabah..

    BalasHapus
  16. Ketika membaca kisah ini, sempat menangis dengan bahwa dahsyatnya sakratul maut.
    Seorang Rasul Allah, merasakan betapa sakit dan dahsyat ketika ruh-Nya di cabut dengan sangat perlahan.

    Allahu Akbar..
    Ya.. Allah Ampuni kami.. Ampuni Kami

    BalasHapus
  17. Berkali-kali kubaca kisah ini, menyadarkan hati betapa Insan suci itu demikian mencintai ummatnya. Benar, kata Ivan ... kita tengah memasuki ruang cahaya.
    Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa aali Muhammad

    BalasHapus
  18. subhanallah..sebaiknya sering-sering mampir ke blog ini karena banyak kisah menarik yang bisa dibaca dari sini :)

    BalasHapus
  19. Oh ya mbak. Kalo yg paling jernih audionya ada di pilihan kedua winamp (gambar alien itu). klik aja. lalu klik OK. akan muncul tampilan winamp. kalo gak connect atau gak jernih langsung klik ulang PLAY pada winamp. mbak juga bisa atur sendiri soundnya di komputer mbak.

    BalasHapus
  20. kisah yang menyentuh hati dan mengigatkan kita akan kehidupan di dunia dan akhirat

    BalasHapus
  21. Allah Maha Besar
    siap ga siap
    kita pun akan menghadap kepada-Nya

    BalasHapus
  22. sholat dan berbuat baik pada sesama...
    dua perkara ringan jika dijalankan namun banyak orang yang melalaikannya..., dan berat hati utk melaksanakanya

    BalasHapus
  23. Mbak, kisahnya memberikan banyak pelajaran bagiku.
    Terima kasih... ^_^

    BalasHapus
  24. Subhanallah,.... bergetar membaca tulisan ini teh :)

    BalasHapus
  25. Artikel yang bagus teh.. baru tahu nih ceitanya....

    BalasHapus

Dengan senang hati kami menerima komentarmu sahabat ,Terimakasih !