Laman

Selasa, 30 Juni 2009

Cerpen:Hikmah Cinta


Didalam kesendirian aku duduk di halaman rumahku ,dengan sesekali sambil menikmati bunga-bunga yg aku tanam dan sekarang tumbuh subur,terlintas dalam hatiku …mengapa aku tidak seperti bunga saja yang dirawat oleh sang empunya tanpa harus memikirkan beban hidup yg menumpuk.Ah ..yg tidak –tidak saja aku melamun.Sore ini aku benar-benar sendiri anak-anakku pergi dibawa Ayahnya jalan – jalan dengan ibunya yg lain…seperti biasa dikala seperti ini hatiku merana sekali .Terlintas kembali luka hatiku yg tergores ,perih sakit dan sedih.

Terdengar alunan adzan maghrib di mesjid menggagetkan aku dari lamunan ,akhirnya akupun bangkit dari tempat dudukku yg kira-kira dua jam aku dudukki.Alhamdulillah …aku menggumam sendiri atas bersyukurnya panggilan adzan .

Setelah selesai sholat terdengar pintu rumah ku ada yg mengetuk agak kencang,mungkin sang tamu agak sewot karna lambat aku buka…
“Waalaikum salam …! Sahutku dari dalam
Setelah kubuka pintu …aku kaget sekali dan hampir saja aku teriak ,tapi Alhamdulillah aku dapat mengontrol diri…
“Ada apa mba?..tanyaku gemetar dan sambil membopong tetanggaku ,badannya penuh dengan darah kepalanya babak belur…Ya Allah ada apa ini gumamku dalam hati.
Sebut saja Erni ,dia tetangga sebelah ku ..dia belum bisa berkata-kata ,hanya isak tangisnya saja yg menjadi…Akhirnya aku hanya dapat menenangkan hatinya terlebih dahulu.Aku bawakan dia secangkir air putih ..
”Silakan diminum mba airnya biar lebih rileks …! Seruku perlahan…
“Trimakasih ..”sahutnya lirih…
Aku ambil waslap basah dan hangat untuk mengelap darah dikepalanya…dan akupun mulai membersihkannya ,dia meringis kesakitan.
”Pelan-pelan mba …sakit banget …! Terdengar suaranya masih dibarengi isakannya yang mulai agak mereda.
Sambil membersihkan ,aku pun langsung bertanya dengan lembut dan sangat hati-hati sekali…
“Ada apa sih mba kok sampai seperti ini …?tanyaku…
“Aku dipukulin sama suamiku mba …! Sahutnya lirih
“aku diseret dan dibentur-benturkan kepalaku ketembok …! Sahutnya lagi
“Astaghfirullah…! Sahutku sambil menarik nafas dan agak emosi mengingat kejamnya suami Erni.

Erni yang kukenal manis ,lembut ,penyabar dan penyayang .Tidak disangka suaminya tega berbuat sekejam itu.Ternyata bukan kali ini dia diperlakukan kejam .Hanya saja Erni bungkam terhadap semua orng yg dikenal nya termasuk saya sahabat nya.Hanya saja saat ini Erni sudah tak tahan dan memang membutuhkan pertolongan medis untuk mengobati lukanya yg serius.Akhirnya Erni aku bawa keklinik terdekat untuk mengobati lukanya itu.

Sambil menunggu resep obat..aku merenung ..Ya Allah ternyata masih ada yang lebih menderita di banding aku.Aku jadi ingat nasehat ibuku .. “Lihatlah selalu kebawah ,janganlah lihat keatas ,senantiasa dirimu akan berpikiran bijak”….Betul sekali nasehat ibuku.Aku menyadari mengapa selama ini aku harus larut dalam kesedihan ,padahal masih banyak wanita-wanita yg teraniaya lahir batin oleh sang suami.
Sedangkan aku walau suamiku menikah lagi tapi dia tetap menyayangiku seperti dulu dan tidak ada yang berubah.Ah..betapa piciknya aku menghadapi cobaan ini.Sedangkan Erni..Ya Allah begitu dahsyat ,lahir batin dia teraniaya.

Panggilan resep obat sudah memanggilku…Akhirnya kamipun pulang .Aku sengaja pergi berdua .Aku khawatir tindakanku salah dan takut diketahui oleh suaminya .Suaminya pasti marah besar seandainya tahu aku membawanya keklinik untuk diobatin.Mungkin yg diinginkan suami Erni
Istrinya itu dibiarkan saja …sungguh keterlaluan .Aku sudah dapat menebak watak suaminya Erni itu.

Setelah sampai rumah dengan hati-hati aku menyelinap masuk kerumahku ,karena rumahku bersampingan dengan Erni.
Setelah masuk …Aku terkejut hampir saja jantungku copot.Suaminya sudah berada didalam rumahku …dengan mata memerah menahan emosi dia menarik Erni dari tanganku dengan kasar sekali.Dan membawa Erni pergi keluar dari rumahku .Akhirnya aku tidak tahan dan meneriaki maling…maling.Dengan waktu singkat masyarakat sekitar rumahku sudah berkumpul karna mendengar teriakkanku.Tapi Erni sudah terlanjur di bawa pergi oleh suaminya ntah kemana.Aku tak melihat mereka pergi .Hanya terdengar deru mobil dengan gas yang kencang .sepertinya Erni di bawa suaminya pergi jauh .Semoga tidak terjadi apa-apa denganmu wahai sahabatku Erni.Doaku lirih dalam hati.

Aku hanya menangisi nasib sahabat ku itu,dengan penuh syukur aku panjatkan padaMU ya Allah.Aku masih diberikan kebahagiaan .
Tidak lama kemudian suamiku pulang beserta anak2,setelah mengantarkan istrinya pulang kerumahnya.
Aku langsung memeluknya dengan kencang dan menangis sejadinya.Suamiku tidak berkata apa2….hanya membelai kepalaku yg dibalut jilbab dengan lembut.Dia mengerti apa yang aku pikirkan .Aku merasa bersalah sekali telah menuduh dia kejam terhadapku .Padahal begitu banyak suami2 yg kejam dibanding suamiku,Maafkan aku wahai suamiku !


Cibubur,29 juni 2009
Ateh75

12 komentar:

  1. Semoga aku ngga termasuk kategori suami diatas.....

    BalasHapus
  2. Hidup ini akan jauh lebih indah bila lelaki dapat memimpin dan melindungi perempuan agar kaum perempuan bisa menjadi penolong dan perawat yang lebih baik lagi

    BalasHapus
  3. orangtuaku juga bilang gitu sob.
    liat ke bawah jangan ke atas.
    masih banyak yang kurang dari kita.
    heheh :D:D:D


    jangan lupa kalo kacang itu makanaan dan salam dangsut selalu.
    UUUOOOOHHH!!!! :D

    BalasHapus
  4. @ Seti@wan D :Cerita fiktif kok Pak...
    @ Sikumb@ng :Semoga ...amin.
    @ Eha :Itu emang lebih baik dan diharapkan...
    @ @ andi G: Itulah seorang ibu mengingatkan kita dng penuh kasih sayang ...

    BalasHapus
  5. Sebuah kunjungan berlama-lama. Cerpen yg bagus. Realitas yg dikemas secara natural. Jika dibaca lebih dari sekali maka akan disadari bahwa cerpen bagus ini sesungguhnya bisa menghardik kesadaran kita akan hidup yg hanya berupa gelembung kecil di atas telaga.

    BalasHapus
  6. menyentuh pisan euy....

    BalasHapus
  7. Biar Fiktif tapi bagus tech ceritanya

    BalasHapus
  8. Sukses yah teh....
    ada Award buat anda,... dijemput yah.

    BalasHapus
  9. Di mana ya bisa aku akses profil Hamid Jabar selengkapnya? Sebagai bahan tentunya.

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah, ternyata ketemu juga profil Hamid Jabar. Ternyata puisi2 religiusnya itu pernah beberapa kali dibaca via telpon oleh seorang pendengar RCA. Secara kebetulan tadi aku putar beberapa rekaman siaran tahun lalu. Setelah 5 jam nguber2 segala sesuatu ttg Hamid Jabar, jadilah ulasan sederhana ttg beliau. Aku ingat, beliau salalh satu penyair nasional yg pernah datang dalam sebuah kegiatan budaya di Makssar, tahunnya lupa.

    BalasHapus

Dengan senang hati kami menerima komentarmu sahabat ,Terimakasih !