Laman

Selasa, 01 Juni 2010

Buncah rindu padamu Ibu....





Ibu…
Alihkan pandangan matamu… jangan sampai hatimu lara dari pandangan yang tak indah ini, dari episode peran terbaru ku kini, maaf ibu…bukan aku tak butuh belaian dan sebuah perhatian yang selalu melenakanku kala aku masih dalam episode indah dulu…, tapi…cukuplah kau melihat wajahku tersenyum padamu yang tersirat kebahagiaan, agar ketenangan batinmu nyaman. Padahal… aku rindu sekali akan belaian itu, dikala kau memelukku saat aku terjatuh karena asiknya bermain sambil berlari-lari layaknya anak-anak kecil. Terasa nyaman dan aku bangga merasa memiliki kasih sayang yang luas darimu itu Ibu…


Tapi…cukuplah aku membebanimu dari kau mengandungku, melahirkanku, merawatku dan mendidikku. Kini saatnya beban itu ku tanggung sendiri tanpa kau terbebani lagi. Aku hanya ingin melihatmu bahagia  ibu…

Ibu…
Aku ingin sekali cerita suka maupun duka padamu, seperti dulu ketika aku remaja, cerita tentang segala kisahnya, kau tersenyum ketika aku cerita disaat pertama aku jatuh cinta, dan memelukku ketika aku cerita tentang berlikunya cinta . Aku bahagia saat itu…seolah hidup itu tanpa beban…karena dirimu hadir mendampingi hidupku.


Kini…bukan saatnya lagi untuk itu, tapi saatnya untuk membahagiakanmu, setelah aku membebanimu dulu. Walau kerinduanku kini tentang masa itu sangat membuncah, hanya ingin menangis dipelukmu dan belaianmu yang tulus. Tidak…aku tak ingin air matamu menitik karena merasakan betapa berlikunya episode hidupku kini. Biarkan likunya hidupku kini…aku hadang sendiri dengan keteguhan yang telah kau ajarkan padaku dulu.

Ibu…
Walau kumenemuimu, aku akan datang dengan senyum yang tersirat bahagia, dan akan kupeluk dengan hangat tanpa air mata, sementara akan aku bendung air mata itu, hanya untukmu Ibu….biarkan tumpah kini air mataku, disaat tulisan ini tertoreh.

Ibu…
Doaku untukmu…selalu menyertaimu, aku rindu….

16 komentar:

  1. Ibu.... jiwa yang sepi akan selalu merindunya. Tak pernah tergantikan, ia akan menjadi tempat bersimpuh, merindukan guratan kasih dan sayangnya.
    Duuuuh, kata "ibu" selalu membuatku ingin pulang..........

    BalasHapus
  2. Bahunya tempat kepala kita bersandar sewaktu bayi masih akan selalu hangat dan merindukan kepala kita untuk bersandar lagi ketika dewasa.

    BalasHapus
  3. membaca postingannya sis..aku jd tringat dosa besar yg prnah aku lakukn kpd ibuku wlpn saat ini dia memaafkn aku, tp aku blum bs tenang krn kebaikn yg aku berikn blum bs membalas sgalanya ...

    BalasHapus
  4. Selamat ! Anda telh sukses membuat airmata saya jatuh :((

    BalasHapus
  5. Kehadiran seorang ibu yang selalu ku ridukan, dan tidak tergantikan posisinya.

    BalasHapus
  6. Ibu adalah rumah terakhir kita dikala mendambakan pelukan kehangatan kasih sayang..

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Mbakku sayang, membuat Ibu kita tersenyum adalah kemuliaan, namun jangan salah menilai seorang Ibu, justru di hari tuanya, Ibu tetaplah Ibu, yg ingin selalu dibutuhkan oleh anak-anaknya. Saya sering melihat Ibu yg sdh sepuh di rmh anaknya hanya disuruh duduk, makan dan tidur sj, ternyata hatinya justru menangis merasa mnjd mns tak berguna lg. Smg ibu kita sll bahagia ya mbak, smg Allah jg membahagiakan mbak Latifah sll di dunia maupun akhirat, aamiin.

    BalasHapus
  9. Hmm. . . . .sprti menemukan oase baru ktka mmbc postingan, Mbak..
    Nice post,!!

    BalasHapus
  10. Mbak, jadi kangen ma mamaku..

    BalasHapus
  11. Bahagiakanlah ibu Anda! Semoga kita semua bisa membahagiakan orangtua kita! Amin!

    BalasHapus
  12. Seorang ibu tidak bisa kita bohongi mengenai perasaan yang ada dalam diri kita, karenanya kita harus bisa membahagiakan diri kita. Karena kebahagiaan ibu terhadap anaknya adalah merasakan kebahagiaan anaknya!

    BalasHapus
  13. Saya jadi ingat sama ibu saya drumah..

    BalasHapus
  14. mata hati ibu selalu tajam, Teh ...Meski kita tak bicara, ia bisa mendengar. Semoga Ateh bahagia dan bisa membahagiakan ibu, sebab bukankah bahagia semata yang kita inginkan bagi ibunda?
    Punten Teh, abdi nembe sumping deui. Eh, muhun, aya award untuk ateh. Diantos

    BalasHapus
  15. Aku menangis membaca tulisan mbak Ateh di atas......
    Semoga Ibu-ibu kita selalu bahagia menikmati hari tuanya, mbak.
    Aku pun juga tak suka berbagi cerita duka pada Ibuku mbak.

    BalasHapus
  16. semoga engkau tak mengeluarkan setetespun air mata duka saat disebut namaku dan melihatku..ibu
    namun....
    air mata itu boleh keluar untuk kebahagiaan yg slalu engkau rasakan dari anakmu ini..!
    Semoga aq slalu bisa mempersembahkan senyuman dan kebahagian untukmu...ibuku!amin

    BalasHapus

Dengan senang hati kami menerima komentarmu sahabat ,Terimakasih !