Laman

Jumat, 06 November 2009

Wanita Itu...


S etiap aku mampir keapotik langgananku ,disamping apotik itu ada sepetak teras kecil,terlihat seorang wanita separuh baya,dengan alas tikar yang kumuh,untuk tempat dimana dia - mengarungi hidupnya.Bajunya yang sudah tebal dengan debu dan warna yang sudah berubah ,ntah dalam kurun berapa bulan atau tahunkah dia tidak mengganti bajunya.Rambutnya pun sudah beraroma tidak sedap dengan gulungan yang tak pernah tersisir dan meggimbal tak - beraturan.Terkadang dia menangis seharian,terkadang teriak-teriak tidak jelas...cukup mengganggu lingkungan juga ,tapi ...semua orang yang melihatnya pasti iba,ntah kenapa...

Sekian lama sudah saya tidak pernah mengunjungi apotik itu ,dikarenakan memang sedang tidak membutuhkan obat.Dan karena kebutuhan obat yang harus dibeli akhirnya sayapun pergi keapotik langgananku itu.Seperti biasa bila sesampai apotik,yang aku tengok dengan penuh hati-hati karena khawatir mengganggunya,yaitu teras samping apotik.
Ya Allah...ternyata wanita itu sudah tidak ada disitu lagi...kemana gerangan ? tanyaku dalam hati...

Kutanya pak satpam apotik,ternyata..wanita itu sudah dibawa pulang oleh keluarganya kembali setelah kabur dari RSJ,menurut cerita pak satpam ,Wanita itu mengalami stress dan akhirnya menjadi gila setelah dimadu oleh suaminya,dan tinggal satu pondok bertiga madunya ,wanita itu rela dimadu ..ternyata dalam diamnya selama hidup sepondok bertiga,hatinya hancur dan rapuh ,kehancuran dan kerapuhan hatinya membawa imannya meleleh.Akhirnya jiwanya goncang dengan hebat membawa dia harus bermukim di RSJ.Astaghfirullahaadzim...gumamku.

Aku tersentuh dengan kejadian yang telah menimpa wanita itu,ternyata sangat sulit menggenggam Iman agar tidak goyah oleh badai,Dan badai yang telah menimpa wanita itu telah menggoncangkan kekuatan imannya.Dengan rasa syukur setelah melihat dan mendengar kejadian yang menimpa wanita itu membawaku ke alam kekuatan Iman agar dapat mempertahankannya dari badai apapun ,dengan segala cara untuk selalu mendekat pada sang pemberi badai ,angin ..hujan ...kemarau...Allahu Robbi ,agar senantiasa hati selalu dijaganya dengan kekuatan iman yang kokoh.

Karena kesabaran dan kesadaran itu butuh keimanan yang tinggi agar hati tetap dan selalu hanya tertuju pada_Nya,dan rasa syukur atas nikmat_Nya walau hanya setetes.Hidup akan lebih terasa indah dan damai.

*************

24 komentar:

  1. Kisah yg luar biasa ya teh,...

    smg kita mendapatkan hikmah dari kisah itu,aku yakin teteh salah satu wanita terpilih yg keimanannya luar biasa.

    BalasHapus
  2. Kisah yang sangat bagus marilah kita rajin melihat ayat2 Allah baik yg tersirat atau pun yang tersurat

    BalasHapus
  3. Keduax nice posting mantappp

    BalasHapus
  4. gmn perasaan suaminya mellihat begitu... :)

    BalasHapus
  5. Hm....perempuan itu menjadi gila karena di poligami, kasihan juga, hehe. Kelihatannya stigma yang diberikan sebagian orang bahwa untuk menjadi perempuan sholehah harus ikhlas dan rela dimadu, xixixi. Di luar itu, dianggap imannya tidak kuat, bahkan bisa goyah (ada yang gila. ck...ck) dsb. Yah, poligami adalah urusan dalam negeri orang per orang. Yang mau silahkan, yang gak ya monggo. Ya kan teh. Nice post.

    BalasHapus
  6. kalo emang gak ikhlas kenapa gak jujur aja to hiks hiks

    BalasHapus
  7. Sangat banyak pembelajaran berharga yang bisa dipetik dari lingkungan sekeliling kita, moga saja kejadian yang menimpa Sang Ibu akan menjadi cermin agar tidak terjadi dalam lingkungan keluarga kita.

    Nice posting teh...

    BalasHapus
  8. Keimanan memang terkait dengan mental, namun tidak semua mental itu akan kuat terkait dengan keimanan. Karena banyak orang yang bermental bagus namun tidak punya keimanan yang bagus. Sebaliknya juga begitu. Urusan duniawi terletak pada mental dan kekuatan berpikir. Begitu aku rasa.

    BalasHapus
  9. Diam itu memang emas,tapi ada saatnya mengatakan apa yang mengganjal dihati itu lebih dari berlian..

    BalasHapus
  10. ...katarsis, tulisan ini adalah rekonstruksi sudut pandang yang bisa membolak-balikkan persepsi. namun tetap bertaut pada satu benang merah. Semangat perempuan untuk menyemangati perempuan lainnya. Dahsyat. Sekali lagi, salut.

    BalasHapus
  11. To All : Aku salut dengan ketegaran wanita itu demi pengabdian cintanya terhadap sang belahan jiwa dia begitu besar berkorban,pastinya beralasan dia dimadu.ntah apa alasan apa yang terjadi.dengan kesabaran dan kesadaran nya walau berbatas dan berakhir mentalnya terguncang yang membawa dia ke RSJ.Semoga Allah memberikan pemulihan atas mentalnya ....dan mereguk hidup yang sewajarnya kembali...amin.

    BalasHapus
  12. hebat sekali wanita ini. berharap dia segera pulih. lagi2 seorang korban poligami.

    BalasHapus
  13. Fiuh, apakah betyl ini pengorbanan seorang wanita? sepertinya, ia menyimpan luka yang begitu dalam. Subhanallah...

    BalasHapus
  14. Poligami memang tak semudah yang dikatakan... perlu kesiapan mental dan keikhlasan.
    Apakah dia dapat sembuh kembali..? Harga yang harus dibayar utk rasa cintanya ternyata mahal sekali.

    BalasHapus
  15. Iman...kunci segala keresahan dan ikhlas ,tidak mudah tapi harus bagi yang memilih jalan tersebut.

    BalasHapus
  16. moga cepet sembuh aja y,itu harapanku dan bisa memegang kuat keimanannya...bisa ikhlas menghadapi hidup yg penuh tantangan ini

    BalasHapus
  17. salam sobat
    kasihan ya wanita itu,,stres dan kabur dari RSJ,,
    memang kesabaran butuh keimanan yang paling dalam mba,,,
    siip artikelnya.

    BalasHapus
  18. yah itulah poligami yang dijalankan tanpa pemahaman aturan yang Allah buat dengan sedemikian rupa sempurnanya.. sepondok bertiga, bahkan seharusnya setiap istri diberi pondok masing-masing yang layak dan baik... ah, isi dunia yang aneh hehe...

    BalasHapus
  19. Ipeeehhhh... Maap baru bisa mampir...
    Kasian ya wanita itu... Moga aja kita dijauhkan dari hal2 seperti itu. (nyambung gak sih komen ku?) Yang penting komen hahaha

    BalasHapus
  20. Wanita itu Ibarat Arti Madu dan Racun buuu...!

    BalasHapus
  21. Wanita tsb menurut saya sebenarnya tidak rela dimadu, hanya saja dia tidak berani mengungkapkannya. Jika tidak rela maka akan menimbulkan stress berat. Apalagi sang suami tidak bijak dalam memperlakukan istri-istrinya. Jadi runyam deh jadinya

    BalasHapus
  22. kalau menurutku madu bukanlah akar permasalahnya, tetapi kemampuan komunikasi diantara semuanyalah yg membuat dia makin terpuruk, poligami memang bukan pilihan yg terbaik tapi bukan berarti tidak ada keindahan disana, semuanya dikembalikan ke pribadi masing2

    BalasHapus
  23. [...]setiap aku mampir keapotik langgananku ,disamping apotik itu ada sepetak teras kecil,terlihat seorang wanita separuh baya,dengan alas tikar yang kumuh,untuk tempat dimana dia - mengarungi hidupnya..[...]

    Sekian lama tau baru sekarang, setelah dia sudah gada sobat bertanya akan dia.

    Yaaa.. Orang baru merasa kehilangan katika apa yang dicari sudah tidak ada.

    BalasHapus

Dengan senang hati kami menerima komentarmu sahabat ,Terimakasih !