Laman

Kamis, 19 November 2009

Dunia Jalanan Yang Indah Bagi Paijo


D engan tubuh mungilnya ,dia mengais-ngais rezeki mengamen dijalanan dengan alat musik yang sangat sederhana ,ya...hanya dengan sebuah tutup botol cocacola yang dirancangnya menjadi sebuah alat musik dari hasil memungutnya dipinggir jalan yang berserakan ,tutup botol cocacola yang dibuang oleh sang empunya yang membuangnya sembarangan tanpa memperdulikan kebersihan ,dan..kini menjadi alat andalan Paijo untuk mengais rezeki .

Setiap Rima melintas dilampu merah ,Paijo selalu hadir untuk bernyanyi alakadarnya hanya untuk mencari simpati para pendengar ,harapan Paijo ,mereka menyisihkan recehan untuknya. Rima yang sudah menjadi langganan Paijo dilampu merah itu,terenyuh dan tersentuh dengannya .Sudah terbersit dalam hatinya semenjak bertemu dengan paijo,ingin mengajaknya tinggal bersamanya menikmati nyamannya tidur dibawah atap yang selayaknya,tidak seperti saat ini, Paijo tidur dimana dia mau dan dimana saja dia menemukan tempat aman ,yang terkadang kena siraman air sang pemilik Toko karena Paijo tidur didepan Toko itu.

Akhirnya dengan tekad yang bulat dan tulus ,Rima mengungkapkan keinginan nya kepada Paijo .

"Dek ,mau ga' ikut sama kakak tinggal serumah ?" kata Rima sambil setengah teriak karena suara bising deru mobil dijalanan

" Mau dong namanya dikasih enak ! " jawab Paijo tanpa basa basi karena keterbatasannya dalam etika yang tak pernah ia dapatkan dari pendidikan manapun termasuk orangtuanya

"Ayo sekarang ikut kakak dulu naik mobil ,biar ngobrolnya santai dan tenang !" seru Rima sambil membukakan pintu mobil

Dengan cekikikan girang Paijo melompat-lompatkan pantatnya dijok mobil kijang Inova yang cukup nyaman ,dan baru kali ini dia menaikinya ,Rima hanya tersenyum melihat tingkah polos Paijo.

*~0<><<<<0>>><>0~*

Hari demi hari mulai dilalui Paijo tinggal di rumah keluarga Rima yang penyayang dan sangat penuh perhatian,peraturan demi peraturan yang diterapkan dikeluarga itu menjadi peraturan baru untuk Paijo.tidur malam harus tepat waktu pas ting jam sembilan ,pagi sebelum Adzan subuh sudah harus bangun dan dilanjutkan sholat berjamaah ,pagi dilanjutkan dengan sarapan berjamah ,karena paijo belum sempat masuk kesekolah yang seharusnya dia nikmati dari waktu yang seharusnya ,kini usia Paijo menginjak usia 12 tahun ,usia yang seharusnya duduk dibangku kelas enam SD itu.Saat ini jam setelah sarapan pagi Paijo isi hanya dengan bermain dirumah sendiri dengan Pembantu.

Peraturan dirumah itu yang membuatnya tertekan,seakan memenjarakan dia tanpa ada kebebasan seperti halnya waktu Paijo hidup dijalanan ,tak ada yang melarang dan mengaturnya ,dengan hidup semaunya ,tanpa ada yang menasehati,bila dia melakukan kesalahan .Rasa jenuh pun menyerang Paijo .

Tanpa pamit ,Paijo pergi begitu saja untuk kembali kedunia yang dicintainya yaitu : Jalanan Ternyata kemewahan tak menghadirkan kebahagiaan untuknya .Kebebasan yang ia dapatkan hidup dijalanan sudah cukup membuatnya bahagia .Semua itu karena pembentukkan yang sudah mendarah daging dalam diri paijo dari semenjak dini .

Niat mulia Rimapun untuk membahagiakannya kandas ,hanya dengan kepasrahan Rima merelakannya,akhirnya kini Rima hanya dapat menyayangi Paijo dari jauh .

Rima hanya dapat berdoa agar bayi-bayi yang akan lahir dimasa yang akan datang dari penghuni jalanan tidak tumbuh seperti Paijo yang telah terbentuk menjadi manusia jalanan yang liar tanpa ada peraturan ,tapi bisakah ? bisiknya bertanya pada dirinya sendiri.

*~0<><<<<0>>><>0~*

29 komentar:

  1. Sayang sekali perbuatan yang begitu mulia berakhir dengan perpisahan. Bagi anak jalanan kebutuhan selain sandang pangan yang dia inginkan perlindungan dan perhatian serta komunikasi dan pendidikan! Mungkin jiwa kebebasannya begitu melekat begitu masuk keluarga yang tertib terasa dipenjara! Artikel yang bagus sebagai wawasan bagi mereka yang ingin mengentas anak jalanan, bagaimanapun juga ini tanggung jawab kita semua dan pemerintah!

    BalasHapus
  2. mereka adalah bagian dari kehidupan indah didunia,,

    saluttt buat mbakkk

    BalasHapus
  3. Bukti bahwa semua yang ada di alam fana ini adalah relatif.
    Mata Rima yang beradab memandang kehidupan jalan Paijo adalah liar, tak beraturan, dan mungkin amoral.
    Sedangkan paijo, dalam serba keterbatasannya memandang aturan beradab dari keluarga Rima adalah pengekangan dan batas hidup.
    Kita tak pernah tahu siapa yang benar, apakah Rima si hakim atau Paijo yang pesakitan??

    BalasHapus
  4. memang gak mudah membawa mereka ke tempat yg nyaman, krn sudah terbiasa hidup bebas.

    BalasHapus
  5. Paijo adalah sebuah potret kehidupan ...
    Alam telah menuntunnya untuk mencari kebahagiaannya sendiri.

    Semua serba relatif ...
    Seseorang otonom untuk memilih apa yang baik bagi dirinya.

    nice sharing

    BalasHapus
  6. "kita adalah musafir jalanan bertemu, hidup dan mati dijalan" gitu yah kira-kira didalam benak Paijo makanya ia tidak bisa hidup terkekang

    BalasHapus
  7. Yach...paijo..paijo...dikasih seneng kok malah milih susah, perlu pencerahan di Dinas Sosial tuch mbak..:p
    Bagi dia, jalanan lebih menjanjikan kebahagiaan, dia hanya tahu tentang hidup yang dijalaninya selama ini...

    BalasHapus
  8. susah emang mengekang org yang terbiasa bebas untuk mengikuti semua peraturan yang ada

    BalasHapus
  9. Kebiasaan memang tak mudah untuk dirubah, butuh kesabaran, waktu dan metoda yang tepat. Merubah kebiasaan diri sendiri sudah sulit apalagi merubah orang lain :)

    BalasHapus
  10. menyedihkan ya..? seharusnya dia berada di sekolah, tapi pada kenyataannya dia malah mencari nafkah di jalanana. Pemerintah, dimana perananmu?

    BalasHapus
  11. Mereka adalah Anak2 mandiri...
    punya cara sendiri untuk menjadikan mereka lebih mandiri...
    salut atas niat baik Rima...
    semoga kelak Rima mendapatkan cara lain dalam menjadikan hidup mereka lebih baik.

    BalasHapus
  12. Kepedulian Ateh menyentuh jalanan
    nice poem....
    met knal ya teteh...

    BalasHapus
  13. um.. campur aduk sih. Memang kebebasan itu mahal, tapi pendidikan tetap nomor satu..

    no comment aja lah. :)

    BalasHapus
  14. memprihatinkan,...

    ada banyak paijo2 diluar sana ya teh *_*

    BalasHapus
  15. Sangat sulit merubah kebiasaan seseorang.
    paijo sudah melaluinya semua di jalanan tanpa aturan yang mengikat.

    BalasHapus
  16. Mbak.... lagunya saya suka, saya sudah download dan memutarnya berkali2
    btw,... siapa sih penyanyinya??

    BalasHapus
  17. hmm,,
    wah paijo payah ne,,
    hehe,,

    kunjungan pertama yg berarti,,
    salam kenal,,

    BalasHapus
  18. Tapi banyak juga lho mba, anak gelandangan seperti Paijo yang dikoordinir atau dikaryakan oleh seseorang dengan keharusan menyetor sebagian pendapatannya dari mengamen atau mengemis...

    BalasHapus
  19. yang sudah terlanjur bebas dan liar memang sulit jika mesti dihadapkan dengan lingkungan yang tertib,
    tapi kalo si paijo ini bisa lebih bersyukur dia ga akan kembali ke jalanan lagi..

    BalasHapus
  20. terkadang, niat baik tak selalu sukses...yang penting rima udah berusaha...
    salam mbak...

    BalasHapus
  21. @ To All > memang tidak semua anak2 yang hidup dijalanan seperti paijo yang keras dengan pendiriannya yang memilih hidup dijalan yang keras dibanding hidup dirumah yang layak dengan kasih sayang yang tulus.Banyak yang berhasil ikut bersama orang yang perduli terhadap mereka ,dan sukses sampai kejenjang yang lebih jauh dimasa depannya.

    Kasus Paijo ini saya tulis dengan terinpirasi cerita dari seorang teman ,jadi memang benar2 nyata.

    *Terimaksih banyak telah mampir dan juga curahan penanya...:-)

    BalasHapus
  22. kayaknya kita memang harus membentuk kebiasaan baru buat mereka ya mbak... dan itu emang nggak mudah... diperlukan kesungguhan dan kerelaan...

    BalasHapus
  23. @ Cahyadi > benar sekali pak,kebiasaan yg sudah membentuk menjadi keperibadian dan watak yg sangat sulit untuk dirubah.

    BalasHapus
  24. Semoga Jumlah Paijo-Paijo lainnya bisa berkurang di masa2 yg akan datang...

    BalasHapus
  25. kepedulian seringkali berbenturan dengan pilihan cara yang tepat. Tapi yakinlah, selalu ada balasan dari semua niat tulus. Semoga memang keinginan Rima dan tentu saja keinginan banyak orang di negeri ini dikabulkan Allah, tak ada lagi bayi-bayi jalanan yang hidup liar tanpa aturan. Insya Allah ...

    Nuhun teh sudah mengingatkan

    BalasHapus
  26. sayang sekali ya niat mulia, belum tentu bisa diterima paijo karena dunia jalanan sudah mengukir kepribadian yang dalam bagi dirinya

    BalasHapus
  27. Beberapa hal yang aku pelajari adalah;
    1. Karena paijo sudah terlalu lama dijalanan.
    2. Pendekatan yang kurang tepat.
    Untuk bisa mengerti pikiran anak-anak jalanan, jadilah orang jalanan terlebih dahulu. Kenali benar siapa mereka. Anda tidak bisa main ambil begitu saja. Untuk membebaskan anak jalanan sebanyak 3 anak saja, aku butuh 5 tahun dan itu dengan pendekatan intense.

    BalasHapus
  28. Memang sulit membentuk karakter seseorang setelah sekian lama mbak... Semoga saja tak banyak lagi anak-2 Indonesia yang bernasib seperti Paijo...

    BalasHapus
  29. mereka sudah terbiasa hidup dijalann dan menikmatinya,
    jadi sudah keterbiasaan dan kehidupannya begitu,,
    beda dengan kita begitu lahir ke dunia kita mendapatkan tempat yang layak..
    ya semoga ajjh anak itu bisa hdup dengan sehat..

    BalasHapus

Dengan senang hati kami menerima komentarmu sahabat ,Terimakasih !