Laman

Selasa, 23 Juni 2009

MERAIH CINTA ABADI


O rang yang beriman pasti mendambakan cinta kasih Allah. Namun untuk memperoleh cinta-Nya, seorang hamba harus menyerahkan sepenuh hidupnya dengan mengabdi kepada Allah, lewat berbagai cara. Setiap pengabdian yang dilakukan harus dilandasi rasa cinta yang tulus, agar mendapat balasan cinta-Nya.

Cinta memang menempati posisi tertinggi dalam pencapaian spiritual seseorang. Bagaimanakah cara untuk mendapatkan cinta-Nya? Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa cinta yang tulus dan abadi. "Katakanlah (ya Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (Ali Imran: 31).
Cinta yang diawali dengan beriman kepada Allah merupakan langkah yang tepat bagi orang-orang yang sedang mencari cinta sejati. Seseorang tidak akan mendapatkan cinta sejati dari manapun, kecuali hanya dari Allah.
Orang yang mencintai Allah, secara otomatis akan muncul kecintaannya kepada para utusan Allah. Sebagaimana umat Islam mencintai dan merindukan perjumpaan dengan Nabi Besar Muhammad Saw. yang digambarkan bagai bulan purnama.
Kecintaannya kepada Rasulullah Saw. jangan seperti orang-orang yang mensejajarkan Nabi dengan Tuhan, karena dapat menimbulkan kultus dan penyembahan. Cinta kepada Nabi dan Rasul itu bukan untuk di sembah, tapi kecintaan itu harus
kembali kepada keimanan, bahwa Nabi dan Rasul itu sebagai penerima wahyu dan penyampai risalah yang benar kepada umat.


~ Meraih Cinta-Nya
Tidak ada jalan lain untuk meraih cinta Allah, kecuali mengikuti Rasulullah Saw. Dan untuk mengikuti Rasul-Nya, harus mematuhi dan menaati segala perintah dan larangan yang telah dicontohkan, sehingga akhirnya Allah akan mencintainya.
Kepatuhan dan ketaatan akan timbul pada diri orang yang beriman, melalui proses bimbingan dari seorang Syekh Mursyid atau yang disebut Ulama waratsatul anbiya' (pewaris nabi). "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun (wali mursyid) yang dapat memberi petunjuk kepadanya." (Al Kahfi: 17).
Karena hanya orang-orang yang beriman yang merasakan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cintanya dapat menenggelamkan dirinya dalam lautan pengabdian abadi, nyaris tak tersisa perintah yang dikerjakan menjadi amal saleh. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya." (Yunus: 9).
Banyak amalan yang bisa dikerjakan oleh orang-orang yang sedang berusaha menggapai cinta-Nya, misalnya mengerjakan shalat wajib, shalat sunah dan teristimewa shalatullail (shalat malam) secara istikamah, sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah Saw. "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat." (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud).
Tercatat dalam tarikh Nabi Saw. sepanjang hidupnya tidak pernah meninggalkan shalat malam. Bahkan ada beberapa hadis yang menjelaskan, beliau mengerjakan shalat sepanjang malam hingga kakinya bengkak. Kendatipun beliau sudah mendapatkan kepastian cinta-Nya, namun tetap melakukan apa saja yang dicintai Allah dengan rasa cinta. Karena di dalam shalat terkandung kemesraan memandang ke-Elok-an wujud-Nya. "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (Thaahaa: 14).
Shalat merupakan puncak kemesraan bercinta dengan Allah. Kemesraan itu sama dengan khusyuk, orang yang khusyuk shalatnya adalah orang yang benar-benar sedang menikmati kemesraan-Nya. Kenikmatan dan kelezatannya tak dapat dilukiskan dengan apa pun. Dengan kata lain, tidak akan merasakan kenikmatan shalat, kecuali orang-orang yang sedang bermesraan dengan Allah. Karena itu, suatu keberuntungan dan hidayah dari Allah bagi orang yang mencapai kemesraan dalam shalatnya (khusyuk). "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (Al Mu'minuun: 1 & 2).
Shalat adalah media hubungan antara hamba dengan Tuhan, sekaligus sarana untuk menjalin hubungan cinta seorang hamba. Dengan shalat, seorang hamba dapat menebarkan rayuan-rayuan untuk-Nya seperti; tahmid, tasbih dan takbir yang merupakan rangkaian keagungan dan kemuliaan diri-Nya yang Maha Tinggi. Kendatipun Ia tidak butuh rayuan dalam bentuk apapun dari seorang hamba, tapi hamba harus tetap memuji-Nya. Sebab, Dialah Wujud Zat yang berhak dipuji sebagai Tuhan semesta alam. Yang memiliki sifat Rahman Rahim dan memiliki Kerajaan langit dan bumi. Dia pula yang menjadi Raja di hari peradilan kelak, karena semua urusan akan dikembalikan kepada-Nya. "Kepunyaan Allah Kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan." (Al Hadiid: 5)

~ Kebersihan Hati
Cinta seorang hamba kepada Tuhannya harus dibarengi dengan kebersihan hati, karena kebersihan hati itu sebagai syarat utama seorang hamba yang ingin mendapatkan cinta-Nya. "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, dan dia (berzikir) ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat (mengadakan hubungan)." (Al A'laa: 15 & 15).
Untuk meraih cinta-Nya, seorang hamba harus melakukan beberapa tahapan, yakni membenahi hatinya dengan takhalli (mengosongkan atau membersihkan), tahalli (mengisi atau menghiasi) dan tajalli (tampak dan merasakan hasilnya).
Banyak cara yang bisa ditempuh untuk memperoleh kebersihan hati, seperti mendalami ilmu yang berkaitan dengan permasalahan hati. Karena dengan memahami ilmu akan dapat mengetahui sifat-sifat madzmumah (buruk) yang menyelimuti hati dan jiwa. Sehingga dengan mudah menyingkirkan kotoran-kotoran batiniah, mulai dari yang bersifat keji (termasuk dosa kecil dan besar) hingga syirik khafi dan jali. Setelah itu, hati senantiasa dihiasi zikir yang terus menerus, sampai tidak ada yang lain di dalam hati kecuali Allah. Jika hati telah dipenuhi dengan kehadiran-Nya, maka dengan sendirinya akan muncul kecintaannya kepada Allah dan sekaligus melihat wujud-Nya yang sangat indah. Ke-Elok-an-Nya tidak ada yang menyerupai di dunia ini. Kelu lidah, tak ada kata yang bisa diungkap dalam bercakap.

~ Cinta Kasih Allah
Cinta yang merasuk ke dalam hati bermuara pada lautan kerinduan. Rasa rindu kepada Allah memicu syuhudnya di setiap tarikan nafas. Syuhud adalah memandang dengan rasa-Nya, untuk meniadakan rasa yang bersemayam dalam diri sebagai bentuk ke-akuan (egosentris). Rasa tersebut yang harus difanakan dan larut dalam rasa-Nya. Mereka itu orang-orang yang dicintai Allah dan yang disebut habibullah (kekasih Allah), yang telah mendapat ampunan dari-Nya, sehingga mereka terjaga dari segala perbuatan dosa.
Untuk mendapatkan cinta kasih Allah, seorang hamba harus menempatkan Allah pada posisi yang istimewa dalam dirinya. Karena Allah tidak mau diduakan, tidak mau dibanding-bandingkan dengan sesuatu apapun. Siapa pun yang menduakan Allah, pasti mendapat predikat musyrik. Mencintai Allah, berarti harus mencintai-Nya sepenuh hati, hanya Dia satu-satunya yang berhak memenuhi hati. Sebagaimana gelora cinta Rabi'ah kepada Allah yang menjadikan-Nya sebagai kekasih sejati. Bahkan Rabi'ah ingin mengajak semua orang untuk mencintai Allah, agar semua merasakan nikmat lezatnya bercinta dengan-Nya.
Dalam sebuah kisah Rabi'ah berlari-lari di tengah pasar dengan membawa seember air dan sebilah obor. Dengan api Rabi'ah ingin membakar surga, agar orang beribadah kepada Allah tidak karena mengharap surga, dengan seember air ia ingin memadamkan api neraka, agar orang beribadah kepada Allah bukan karena takut neraka. Namun hanya karena cintanya pada Allah semata.
Allah tidak akan menipu orang-orang yang mencintai-Nya, tetapi semua orang akan tertipu oleh sesuatu selain Allah yang dicintainya. Sebab, sesuatu selain Allah itu akan binasa beserta cintanya, hanya diri Allah yang kekal beserta cinta-Nya yang abadi.
Untuk meraih cinta Allah, adalah dengan cara memelihara syuhud lahir maupun batin. Ketika di hati tumbuh cinta kepada selain Allah, maka segera kembalikan cintanya kepada Allah melalui syuhud. Tatkala syuhud sudah menguasai hati, maka cahaya musyahadah akan menerangi hati. Karena hati yang terang dapat melihat dan merasakan cinta yang murni dan utuh dari Allah, juga dengan lapang dada dapat menerima baik dan buruk takdir kehidupannya.
Cinta adalah pengabdian dan kepatuhan. Manakala kecintaan kepada Allah sebagai motivator dalam mencintai sesuatu, maka sesuatu yang dicintai akan menjelma jadi anugerah dan amanat yang harus dipelihara.
Cinta adalah peniadaan sesuatu selain yang dicinta. Cinta merupakan penyatuan kehendak dalam rasa yang dicinta. Cinta itu esa dan esa itu tauhid. Adapun tauhid, merupakan ke-Esa-an Tuhan di setiap perbuatan, nama sifat dan zat-Nya. "Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Al Ikhlash: 1-4). J Mursyid Akmaliah.

Sumber Majalah kajian Tauhid hingga Ma'rifat,bila ingin berlangganan hub 0813 19824388

4 komentar:

  1. Bukan sekedar inspiratif. Lebih dari itu. Nuansa religiusitas menghiasinya menjadi amat manis. Beda.

    BalasHapus
  2. ini penjelasannya:

    http://www.alexa.com/data/details/main?url=http://

    seharusnya:

    http://www.alexa.com/data/details/main?url=http://sabarya.blogspot.com/

    nah lengkapi dengan url kamu biar ndak error 404

    semoga bermanfa'at.

    BalasHapus
  3. cinta yang hanya bersumber dariNya,, cinta yang tak berpamrih...

    BalasHapus

Dengan senang hati kami menerima komentarmu sahabat ,Terimakasih !